Ceritaku Selama di Kapal Lawit [Update]


Bismillah

Alhamdulillah kali ini teman-teman pembaca blog yang ana hormati, Baarokallohufiikum, cerita di dalam kapal lawit akan ana utarakan secara singkat, dulu, sebelum ada pesawat berbiaya rendah (low-cost), adalah masa-masa kejayaan kapal laut. Naik kapal laut milik PT PELNI biayanya terasa murah. Penumpang tidak perlu memikirkan makan, sebab harga tiket sudah termasuk makan dan akomodasi selama di kapal. Coba kalau naik bus dari jogja ke semarang misalnya, kita harus mengeluarkan lagi biaya untuk makan selama perjalanan. Pulang kampung dengan kapal laut terasa sangat menyenangkan. Selama di perjalanan kita melihat laut, pulau-pulau kecil, kapal nelayan, ikan terbang, dan kalau beruntung dapat melihat ikan lumba-lumba. Angin laut yang segar menjadi teman selama perjalanan.

Kapal-kapal modern milik PT PELNI diberi nama dengan nama-nama gunung di Indonesia. Tercatat kapal-kapal bernama KM Kerinci, KM Umsini, KM Kambuna, KM Kelimutu, KM Leuser, KM Lambelu, KM Rinjani, KM Dobon Solo, KM Pangrango, KM Lawit, KM Bukit Siguntang, KM Bukit Raya, KM Sinabung, dan sebagainya. Nama-nama kapal itu tidak pernah diambil dari nama gunung api yang masih aktif. Kalaupun nama gunung api, itu adalah gunung api yang sudah lama tidur (meskipun akhirnya ada juga yang meletus tiba-tiba seperti Gunung Sinabung tahun 2010).

Biasanya kalo udah sampai kapal, pasti kerjaannya sibuk mencari tempat istirahat dan tidur sejenak untuk melepas lelah setelah mengangkat barang-barang yang sangat berat dari pelabuhan menuju tangga dan dek yang terdekat, akhirnya setelah melewati rintangan perjalanan dari jogja menuju semarang, kami istirahat di dek 4 bagian haluan kapal, istilah untuk depannya kapal lawit, sebelumnya ramai yang memperebutkan tempat untuk istirahat karena tidak ada peraturan dari PT.PELNI untuk mengatur penempatan penumpang kelas ekonomi sesuai dengan nomer yang tertera didalam tiket kapal, khawatir mempermudah yang datang terlambat untuk dapat tempat dan mempersulit yang datang pertama duluan datang ke kapal, Kecuali yang sudah memesan kamar dan kelas III dan II, karena sudah ditentukan tempatnya.

Di dalam Kapal, yang pertama kali ana kunjungi ialah mushola Safinatul Muqorrobin, mushola yang lumayan megah, semua sisinya sama yang dindingnya berisi surah-surah pendek yang ada di dalam kitab Al-Qur’an, ketika itu ana mempersiapkan diri untuk sholat dhuhur dan ashar dengan niat jamak taqdim qoshor kemudian kembali ke tempat peristirahatan untuk tidur-tiduran dan beristirahat sebelum kapal berangkat.

Kapal-kapal PT Pelni itu mirip seperti hotel terapung. Semua fasilitas ada di sana, mulai dari restoran, kamar yang seperti kamar hotel, bioskop, arena diskotik, toko, TV, shower air panas dan air dingin, dan lain-lain. Tidak ketinggalan musholanya yang luas dan bersih serta kran wudhu yang banyak. Hanya sayangnya, fasilitas bagus itu hanya dapat kita nikmati selagi kapal masih baru, jika sudah bertahun-tahun berlayar maka banyak tangan jahil yang mempreteli dan merusak fasilitas kapal. WC mampetlah, shower air panas tidak jalan, kotor, banyak corat-coret, dan sebagainya.

Kamar-kamar penumpang dibagi menjadi beberapa kelas, mulai dari kelas I, II, III, IV, dan kelas ekonomi. Kelas I isinya dua tempat tidur, kelas II empat, kelas III enam, dan kelas IV 8 tempat tidur. Kelas I adalah kelas yang paling mahal, harga tiketnya setara dengan tiket pesawat. Di dalam kamar kelas I dan II terdapat faslitas TV dan kamar mandi di dalam. Kelas “keroyokan” dan paling murah adalah kelas ekonomi, di sini penumpang tidur di atas barak-barak yang terbuka. Kelas ekonomi ini enak kalau kita pergi beramai-ramai karena kita bebas bercengkerama, bikin rujakan, atau ngobrol ngalor ngidul. Satu hal yang berkesan di kelas ekonomi adalah rasa kebersamaan di antara penumpang yang tidak saling kenal namun merasa senasib di kelas yang paling rendah.

Di atas kapal kita dapat makan 3 kali dalam sehari: pagi, siang, dan malam. Tempat makan adalah di restoran tergantung kelasnya, kecuali untuk penumpang kelas ekonomi. Untuk penumpang kelas ekonomi, penumpang harus antri di depan pantry untuk mengambil jatah dalam piring ceper berbentuk nampan, mirip piring ransum para napi di penjara. Petugas pantry memasukkan nasi, sayur, dan lauk pada slot-slot lubang di dalam piring nampan. Nampan itu dibawa ke barak masing-masing dan makanannya dimakan di sana. tapi sekarang sudah berbeda karena PT.PELNI sudah mempersiapkan nasi kotak dan tidak pake nampan lagi.

Untuk penumpang kelas I hingga IV, makan di restoran masing-masing. Makanan sudah dihidangkan di atas meja sesuai jatah penumpang. Pelayan akan mengatur kita duduk. Menu makanannya bervariasi. Kalau pagi biasanya nasi, telur dan sayur, siang dengan ayam atau daging, dan malam dengan daging. Untuk penumpang kelas I makan pagi bisa berupa nasi goreng, roti, sandwich, susu, kopi, dan teh. Terus terang rasa makanan di atas kapal kurang enak, karena masakan dibuat secara massal untuk ribuan penumpang. Bumbunya kurang pas, garamnya kurang, dan rasa sayurnya nyaris hambar. Karena sering naik kapal, maka saya dan banyak penumpang yang lain biasanya membawa lauk tambahan dari rumah seperti sayuran, rendang, sambal, dendeng, kacang, tempe dan sebagainya.

Makan di atas kapal harus berbagi dengan rasa mual. Karena goncangan kapal akibat gelombang laut, maka kita makan sambil ikut berguncang. Banyak penumpang yang muntah karena mabuk laut sehingga kehilangan selera makan.

Di atas kapal ana dan kawan-kawan suka berkeliling mulai dari dek paling bawah hingga anjungan kapal. Melihat sunset dari atas kapal adalah pengalaman yang berkesan. Banyak juga pasangan yang memadu kasih dan mojok berdua. Memang penumpang di atas kapal beraneka ragam tingkah polahnya.

Saat yang mencekam adalah pada malam hari selepas Isya’. Pada jam-jam segitu penumpang sudah banyak yang terlelap tidur. Malam hari angin sangat kencang dan gelombang laut cukup besar. di lorong luar suasana terasa sepi. Kalau ada orang yang nekat bunuh diri melompat ke laut mungkin tidak ada yang tahu. Berada di atas lautan luas terasa betapa sangat kecil diri kita ini di hadapan kekuasaan Allah Aza Wa Jalla, betapa kita sangat bergantung kepada Allah Aza wa Jalla bilamana membayangkan terjadi apa-apa pada kapal ini terkena dihantam badai dan gelombang laut yang besar.

Karena kemarin masih suasana Liburan Panjang, maka Sebagian besar penumpang yang tidak dapat tiket kelas terpaksa memilih kelas ekonomi. Tapi, kelas ekonomi juga terbatas barak-baraknya, sehingga ratusan penumpang terpaksa tidur menghampar di mana saja, di lorong, di tangga, di ruangan kosong antar dek, dan sebagainya. Benar-benar penuh sesak dan tidur seperti ikan serdencis. Tapi itu pulalah kenikmatan naik kapal laut yaitu rasa kebersamaan sesama penumpang.

Semoga Bermanfaat, Sebagian tulisan diambil dari blognya pak rinaldimunir, karena beliau sudah merasakan pengalaman seperti itu dan telah menulis tentang pengalamannya bersama PT.PELNI di blognya Rinaldimunirblog dengan sedikit perubahan dan tambahan.

Catatan ane dab :

Kalo selama di kapal lawit kemarin ana ketemu ABK kapal yang kerja di bagian kesehatan namanya Aa’ Andi, karena sering naik kapal Lawit jadi sering ketemu dan akrab, biasanya ana tidur di kamar beliau yang di kamar ABK dan tidak bayar alias gratis, selama dikapal karena ana bawa laptop, biasanya beliau minjem buat maen bola PES2010 dan menonton Film, sempet ana mendengar cerita beliau, ketika beliau turun dan pindah ke Kapal lain yang menuju Papua, dan walhasil beliau kecewa bekerja disana, karena beliau kerja sendiri dan tidak ada yang bantu, banyaknya persinggahan kapal ke pelabuhan-pelabuhan selama diperjalanan dan pergantian penumpang yang membuat beliau capek mengurus penumpang yang sakit, akhirnya beliau ga kuat dan kembali lagi ke kapal Lawit.

Ketika hampir sampai di Pontianak, sebelumnya air sungai kapuas tidak dalam alias dangkal, karena khawatir kapal lawit yang besar itu akan kandas maka kami menunggu sekitar 4 jam di kapal, kemudian sampai di Pelabuhan Pontianak ana turun dan pamit ke teman-teman yang bersama-sama pulang tapi beda daerah, kalo mereka di Kota Pontianak, tapi ana ke Singkawang.

Selama turun dari Kapal, ana lihat banyak penumpang yang dari pontianak sudah menunggu lama dan hendak naik ke Kapal, karena Air takut cepat surut maka bertumpuklah/ramai antara penumpang yang turun dengan penumpang yang naik, karena ga bisa keluar ana lewat jalan laen, dan akhirnya bisa keluar dari pelabuhan pontianak menuju Singkawang. tapi ana beristirahat dahulu di tempat saudara ipar yang Brimob di Pontianak kemudian besoknya Pulang menuju ke rumah di Singkawang.

Udien

Iklan

10 thoughts on “Ceritaku Selama di Kapal Lawit [Update]

  1. dulu saya pernah nganter kawan ke Tanjung Mas. kawan saya itu mau pulang ke maluku naik kapal sinabung. selagi sandar, saya sempatkan untuk keliling kapal.

    kebetulan waktu itu mendekati akhir libur panjang. jadi penumpangnya ramai tiada terkira. apalagi ditambah anak pramuka yang pulang dari jambore. jadi, rata-rata penumpangnya pada ngemper semua. ada yang di bawah tangga, selasar, dan tempat lainnya.

  2. Tanggal 25 Maret 2013 ana berangkat Ke jogja naik Kapal Lawit rute dari Pelabuhan Pontianak Menuju Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, do’akan Semoga Selamat sampai Tujuan ya teman2….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s