Syaikh Badr bin Muhammad al-Badr hafidzahullah [Transkip/Resume Daurah Umum Sesi I]


Bismillah, Walhamdulillah, kali ini Abuhirr, ingin berbagi transkrip/Resume Daurah Umum di Masjid Agung Manunggal Bantul Kemarin, moga bermanfaat
Penerjemah Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri.
Artinya sebagai Berikut :

Sesungguhnya segala pujian milik Allah. Kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan kepadaNya, kami memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami, serta kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tiada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.
***

Ikhwati fillah sebelum kita memasuki terjemahan dari muhadhoroh yang disampaikan oleh syaikh Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Badr. sekilas tentang biografi Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Badr. Beliau adalah Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Badr al-‘Anazi,beliau adalah kepala bidang dakwah dan irsyad kota (khorj) perbatasan Su’udy dengan Kuwait, beliau menghafalkan al-Qur’an kepada guru beliau Asy Syaikh Al Mukrik al Mishry dan mendapat ijazah syaikh al Mishry dan mendapat ijin untuk meriwayatkan bacaannya sesuai riwayat al hafs dan untuk mengajarkan ilmu tajwid.

Belajar mustholah hadits kepada para syaikh yang masyhur, diantaranya yang paling masyhur adalah Tsana’ulloh bin Isa Khan al-Madani mufti laghor di Pakistan dimasanya. Mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan ilmu hadits.
Diantara guru-guru beliau yang lain adalah :
Syaikh Shalih al-Haidar
Syaikh Shalih al-Fauzan
Syaikh Sholeh bin Sa’ad as-Suhaimi, kepada beliau, syaikh membacakan risalah-risalah Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Beliau juga anggota Lajnah Muraqqabatul Qurra’ sebagai pengawas, beliau juga menjadi pengajar di Al-Ishlaiyah Kuwait.
***

Sesungguhnya termasuk ilmu yang paling afdhal secara mutlak adalah ilmu tafsir Al Quran, ilmu yang paling bermanfaat karena berkaitan dengan kitab Allah, dengannya orang akan menghafal dan menjaga kitab Allah, pada hari ini dengan izin Allah kita akan mengkaji salah satu surat dari surat-surat al-Qur’an, yaitu Surat al-Ashr.
Dalam surat itu Allah berfirman :
“Bismillahirrahmanirrahim. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman,beramal shalih mereka saling mewasiatkan pada Al Haq dan kesabaran”.

Surat yang mulai ini terdapat padanya 3 ayat, Tiga ayat yang begitu ringkas namun begitu luas kandungan maknanya. Dalam surat ini Allah mulai dengan bacaan basmalah, yang mana ayat ini adalah ayat yang digunakan untuk memulai setiap surat atau pemisah bagi setiap surat dalam al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Abbas.

Sehingga di sunnahkan untuk membaca basmalah pada setiap surat kecuali surat Bara’ah (surat at Taubah), telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalan Ali Radhiallahu’anhum bahwa surat ini turun terkait pedang atau peperangan, sehingga tidak sesuai jika di awali dengan basmalah. Adapun surat-surat yang lain disunahkan untuk mengawalinya dengan bismillahirrahmanirrahim.

Demi masa, ayat pertama dari surat ini. Sungguh para sahabat jika bertemu atau berkumpul tidaklah mereka berpisah sebelum membaca surat ini, demikian diriwatkan oleh Imam at Thabarani dan dishahihkan oleh al Albani. Allah memulai surat ini dengan sumpah Nya (wal ‘asr) “Demi Waktu”,Allah bersumpah dengan waktu yaitu zaman yang ma’ruf waktu ashar. Allah bersumpah dengan apapun yang Ia kehendaki dari mahluk-mahluk ciptaan Nya. Disebutkan oleh Ibnu Katsir, Allah adalah Maha Agung dan tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang Agung pula. Dan disini Allah bersumpah dengan waktu,menunjukan betapa pentingnya waktu ,oleh sebab itu barang siapa yang menggunakan waktunya untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah maka dia beruntung, dan barang siapa yang mempergunakan waktunya untuk maksiat kepada Allah maka dia merugi dan barang siapa menggunakan waktunya untuk perkara yang sia-sia maka itu pun tidak dibenarkan dalam perbuatannya tersebut. Karena Allah berfirman : “Allah mencela mereka yang menjadikan agamanya menjadi perkara permainan dan sia-sia”

Rasulullah pun mencela Bani Adam yang menggunakan waktunya dalam perkara yang sia-sia, permainan yang ia lakukan kecuali di tiga perkara yang Beliau sabdakan, “Yaitu melempar atau seorang suami bercumbu dengan istrinya atau yang mengendarai kuda.” Beliau terkadang berlomba mengendarai kuda dan memanah bersama para sahabatnya.

Adapun hamba tidak boleh bersumpah kecuali hanya dengan nama Allah, karena sumpah adalah ibadah, maka barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka itu adalah syirik. Apabila diiringi dengan pengagungan kepada selain Allah tersebut maka dia telah kufur.
Sebagaimana sabda Rasulullah : “Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah maka dia telah kufur” Maka barang siapa yang bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah. Maka firman Allah demi masa yang mana masa adalah ciptaan Allah, maka salah jika ada yg mencela masa,dengan ungkapan mereka ‘betapa tercelanya waktu ini’ atau ‘terlaknatlah waktu ini’. maka mencela waktu adalah haram.

Dan Bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi bahwa Allah berkata “Anak Adam menggangguku dimana ia mencela waktu, padahal aku yg membolak-balikkan malam dan siang.” (dalam riwayat lain “Aku yang menciptakan waktu”). Disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan dalam Fathul Majid, “barang siapa mencela waktu maka dia telah mencela Allah. Baik hari maupun waktu-waktu yang lainnya.” Sehingga ini adalah perkara besar dan dosa yang besar sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya ash-Shorimul Mashlul, ”Bahwa mencela waktu adalah kekufuran.” Apabila menyebut kondisi atau keadaan waktu sebatas pengabaran tertentu, maka itu boleh. misalkan : hari ini panas atau dingin. Sebagaimana firman Allah: “Kami kirimkan kepada mereka angin yang begitu kencang yang sangat dingin”. Juga sabda Rasulullah “Dunia itu terlaknat”. Sabda Rasullullah ini merupakan pensifatan bukan celaan.

Kembali kepada ayat ini, ini adalah sumpah Allah dengan nama makhlukNya. dan sumpah terbagi menjadi dua, yaitu yang disyari’atkan dan yang tidak disyariatkan. Adapun yang pertama adalah dengan bersumpah dengan nama-nama Allah dan sifatnya, seperti : “Demi Allah”, “Demi Yang Maha Agung” dan yang semacamnya.

Bagian ini ada beberapa macam:
Sumpah yg telah teranggap, Yaitu jika telah terucap maka wajib menjalankan sumpah tersebut atau jika tidak maka wajib membayar kafarah yaitu membebaskan budak atau memberi makan 10 orang miskin,memberi mereka pakaian, berpuasa 3 hari.
Sumpah yang sia-sia, jika sumpah itu hanya menjadi kebiasaan dan tidak dimaksudkan padanya untuk bersumpah. Temasuk bagian ini adalah jika bersumpah atas sesuatu dengan dugaan kebenaran yang ada pada dirinya namun terbukti sebaliknya. Misalnya engkau beri kepadanya uang lalu karena lupa lalu engkau katakan kembalikan uang itu maka dia mengingkarinya dengan bersumpah tidak diberi uang. Tapi kemudian dia teringat maka tidak ada kafarah padanya. Dibolehkan pula untuk bersumpah dalam rangka memuliakan, seperti tuan rumah yang memuliakan tamunya, jika dia tidak memenuhi permintaanmu maka tidak ada kafarah bagimu.
Hal ini Sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Adapun bagian yang kedua dari sumpah adalah sumpah yang tidak di syari’atkan, dan ini banyak macamnya:
Sumpah dengan nama selain Allah,dan ini adalah syirik. Sumpah yang menenggelamkan, karena dia menenggelamkan pelakunya kedalam neraka, yaitu sumpah dengan nama Allah dengan dusta. Oleh sebab itu perkara ini merupakan dosa yang sangat besar karena dengannya telah dirampas hak orang lain maka yang wajib bagi pelakunya adalah wajib bertaubat kepada Allah dan mengembalikkan hak orang yang telah terampas haknya.
Sumpah palsu. Ketika seseorang bersumpah dengan nama Allah melakukan sesuatu padahal dia tidak melakukannya. Termasuk perkara yang dilarang adalah memperbanyak sumpah,sebagaimana firman Allah “Jangan kau jadikan Allah sesuatu yang sering kau ucapkan dalam sumpahmu.” Dilarang memperbanyak sumpah dalam perkara yang sepele, sehingga Rasulullah jika bersumpah menyebutkan “Demi yang jiwaku berada ditangan Nya” atau beliau katakan “Demi yang membolak-balikan qalbu” demikian agar Beliau tidak bersumpah dengan nama Allah.

Masa jahiliyah dahulu tidak mau berdusta karena dusta bagi mereka adalah aib, sebagaimana Abu Sufyan ketika mendatangi kaisar Romawi dan ditanya tentang Rasulullah sedangkan waktu itu belau masih musyrik dan memusuhi dengan sangat Rasulullah. maka beliau menjawab apa adanya tentang dakwah Rasulullah. Dia berkata:
“Sungguh jika aku tidak takut bangsa arab akan menggelari aku sebagai pendusta, maka saat itu adalah kesempatanku untukku berdusta tentang Rasulullah”

Rasulullah pun bersabda dalam riwayat Muslim mengingatkan umatnya :
“Berhati-hatilah kalian dengan kedustaan, karena kedustaan menggiring kepada kefajiran, dan kefajiran menggiring kepada neraka. Dan hendaklah kalian jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kalian kepada surga.”

Innal insaana lafii khusr “Sungguh manusia berada dalam kerugian”
Inna adalah penekanan makna, maka Allah menekankan bahwa manusia semuanya dalam kerugian, al-insan adalah sebutan untuk manusia dan disebut demikan karena sifat meraka yang sering lupa dan lupa itu dari syaithan,maka mereka itu dilupakan syaithan.
Rasulullah bersabda, “Jangan salah seorang dari kalian mengatakan aku lupa ayat ini dan itu dari Al Quran,karena terkesan ada permainan syaithan di dalamnya, tapi katakanlah aku telah dilupakan .”
Sebagian ulama menyebutkan al-insan adalah jinak dan berdekatan karena mereka saling membutuhkan,maka manusia berasal dari manusia pula, anak cucu dari Adam Alaihissalam, adapun pendapat filosof dan orang atheisme yang mengatakan asal mula manusia adalah dari seekor monyet, maka ini adalah pendapat yang bathil sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Bin Baz.
Sedangkan Allah telah berfirman, “Sungguh Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-sebaiknya.”

Demikin pula dilarang atau haram bagi seseorang untuk memanggil orang lain dengan panggilan yang jelek seperti hai anjing, hai keledai. Karena Allah berfirman :
“Janganlah kalian saling memanggil panggilan yang jelek kepada saudaramu.”
Telah ditanyakan pula kepada Sahammatus Syaikh Ibnu Baz:
“Apa pendapatmu jika seseorang yang memanggil dengan panggilan ‘hai bodoh’”. Maka beliau menjawab “maka itu tidak boleh dan tidak dibenarkan. Maka hendaklah kalian saling memanggil diantara kalian dengan panggilan yang baik”.
Pada sesi pertama ini kita cukupkan sampai disini untuk persiapan sholat dzuhur. Dan surat yang telah kita sampaikan ini kalau kita tafsirkan dengan utuh,maka tidak akan mencukupi waktu bila disampaikan dari pagi sampai malam hari akan tetapi insya Allah akan kita lanjutkan pada sesi berikutnya. Aku memohon kepada Allah apa yang kita sampaikan bermanfaat untuk kita,dan semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita.

Semoga Bermanfaat, Baarokallohufiiykum…

Udien

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s